Pembakaran Bersama Biomassa di Pembangkit Listrik Indonesia: Meningkatkan Skala untuk Memenuhi Kebutuhan Energi
- Geni Buana Nusantara
- 21 Nov 2024
- 6 menit membaca

PT PLN (Persero) secara aktif menerapkan teknologi substitusi batu bara dengan biomassa (co-firing) sebagai bahan bakar untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Langkah ini menunjukkan komitmen PLN dalam mendukung upaya pemerintah untuk mengurangi emisi karbon dan mencapai target campuran energi terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025. PLN mulai menggunakan teknologi co-firing pada tahun 2020, dan hingga Mei 2022, 32 PLTU telah mengadopsi teknologi ini. Berkat co-firing, PLN berhasil menghasilkan listrik hijau setara dengan 487 MegaWatt jam (MWh). Dalam upaya mengurangi emisi karbon dan beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan, terdapat kebutuhan mendesak untuk mengadopsi bahan bakar alternatif. Industri yang dapat menjadi pasar untuk pellet biomassa meliputi industri pembangkit listrik, industri manufaktur, pabrik pengolahan makanan, dan industri semen, yang semuanya membutuhkan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Selama tahun 2023, PT PLN telah menggunakan 1 juta ton biomassa untuk 42 pembangkit listrik di seluruh Indonesia. Secara bersamaan, PT PLN akan terus melakukan uji coba co-firing hingga 2025 di 52 PLTU di Indonesia dengan rasio 5% hingga 10% dari total penggunaan batu bara.
Dalam melaksanakan co-firing, PLN Group memanfaatkan limbah seperti serbuk kayu, serpihan kayu, tongkol jagung, dan bahan bakar padat yang dihasilkan dari sampah (SRF). Untuk memastikan keberlanjutan pasokan biomassa, PLN bekerja sama dengan BUMN lain, pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat lokal. Penerapan teknologi co-firing telah mengurangi emisi karbon sebesar 184 ribu ton CO2 dan gas rumah kaca hingga April 2022. PLN juga mengajak masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam penanaman tanaman biomassa dan pengelolaan sampah rumah tangga menjadi pellet biomassa. Hal ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Di bidang lingkungan, PLN telah mengembangkan strategi untuk meningkatkan kapasitas pembangkit energi terbarukan (EBT) baru menjadi 20,9 GW pada 2030, menyesuaikan kebutuhan pasokan dan permintaan. PLN berencana untuk mengonversi PLTD menjadi EBT, memperluas pembangkit gas, dan memaksimalkan program co-firing biomassa di PLTU yang ada. Hingga tahun 2025, targetnya adalah pembakaran bersama biomassa dapat diterapkan di 52 PLTU dengan kapasitas total 10,6 GW dan permintaan biomassa mencapai 9 juta ton per tahun. PLN juga berkomitmen untuk memanfaatkan teknologi ramah lingkungan terbaru, yang akan mendukung efisiensi, kualitas, dan biaya produksi dengan dampak positif bagi lingkungan.
Kemajuan pembakaran campuran biomassa di Indonesia telah signifikan dalam mendukung transisi energi bersih dan pengurangan emisi karbon. Berikut beberapa kemajuan yang telah dicapai:
Implementasi di puluhan PLTU: Hingga saat ini, PLN telah berhasil menerapkan teknologi pembakaran campuran biomassa di lebih dari 30 PLTU di seluruh Indonesia, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat. Hal ini menunjukkan komitmen untuk menggunakan biomassa sebagai bahan bakar campuran di PLTU.
Peningkatan Produksi Listrik Hijau: Pembakaran campuran biomassa telah berhasil menghasilkan listrik hijau setara dengan ratusan ribu MWh, membantu meningkatkan kontribusi energi terbarukan di Indonesia.
Pengurangan Emisi Karbon: Teknologi pembakaran campuran biomassa di pembangkit listrik ini telah berhasil mengurangi emisi karbon dalam jumlah besar, dengan target pengurangan emisi sebesar jutaan ton CO2 pada tahun 2025.
Penggunaan Limbah Lokal: Program pembakaran campuran memanfaatkan biomassa dari berbagai limbah organik lokal, seperti serbuk kayu, serpihan kayu, jerami jagung, dan SRF (bahan bakar padat yang dihasilkan dari limbah). Hal ini tidak hanya membantu mengelola limbah, tetapi juga mendukung ekonomi sirkular.
Pengembangan Infrastruktur dan Kemitraan: Untuk mendukung pembakaran bersama, PLN telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat, untuk memastikan pasokan biomassa yang stabil dan berkelanjutan.
Tujuan Nasional Jangka Panjang: PLN dan pemerintah berencana memperluas pembakaran bersama ke lebih dari 50 pembangkit listrik hingga 2025, dengan target kapasitas hingga 10,6 GW dan permintaan biomassa mencapai jutaan ton per tahun.
Dengan kemajuan ini, pembakaran bersama biomassa di Indonesia semakin menunjukkan potensinya sebagai solusi transisi energi bersih dan komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi karbon.
Meskipun kemajuan terlihat menjanjikan, pembakaran biomassa bersama di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah pasokan biomassa yang stabil, di mana PLN dan mitra membutuhkan rantai pasokan yang andal dan berkelanjutan, serta ketersediaan biomassa berkualitas tinggi yang memadai dari limbah organik dan sumber biomassa lainnya. Tantangan lain adalah biaya logistik dan infrastruktur, yang melibatkan pengumpulan biomassa dari berbagai sumber di seluruh Indonesia, terutama di daerah terpencil. Hal ini memerlukan sistem logistik yang efisien serta jaringan transportasi dan penyimpanan yang andal untuk memastikan kelangsungan pasokan biomassa ke pembangkit listrik. Selain itu, investasi dan adaptasi teknologi menjadi kendala, karena implementasi pembakaran campuran memerlukan penyesuaian infrastruktur pembangkit listrik untuk menggunakan bahan bakar campuran, yang melibatkan biaya tambahan untuk modifikasi teknologi serta pengelolaan jumlah besar biomassa.
Potensi pembakaran campuran biomassa di Indonesia sangat besar, mengingat sumber daya biomassa yang melimpah dari sektor pertanian dan kehutanan. Dalam jangka panjang, pembakaran campuran biomassa yang sukses dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada batu bara, mendukung target campuran energi terbarukan, dan membuka peluang ekonomi baru di sektor energi terbarukan. Selain itu, keterlibatan komunitas lokal dalam rantai pasokan biomassa dapat mendorong pengembangan ekonomi lokal melalui pengelolaan limbah organik. Prospek masa depan pembakaran bersama biomassa di Indonesia sangat potensial dalam mengurangi emisi karbon dan meningkatkan energi terbarukan, dengan beberapa aspek utama, termasuk mendukung target 23% energi terbarukan pada tahun 2025, mengurangi emisi COā yang dapat mencapai jutaan ton per tahun, dan memanfaatkan limbah pertanian dan kehutanan sebagai bahan bakar yang mengurangi ketergantungan pada batu bara serta mendukung ekonomi lokal. Pembakaran campuran juga berperan dalam mendukung ekonomi sirkular dengan melibatkan komunitas dalam pengelolaan limbah dan penciptaan lapangan kerja, serta mendorong teknologi hijau yang lebih efisien dan kompetitif dalam produksi listrik. Di sisi lain, pembakaran campuran membuka peluang investasi yang menarik investor untuk mengembangkan rantai pasok biomassa dan teknologi terkait, sambil menyediakan solusi jangka menengah untuk transisi energi yang mengurangi ketergantungan pada batu bara dan memberikan waktu untuk pengembangan energi terbarukan.
Dengan dukungan pemerintah, teknologi, dan masyarakat, pembakaran bersama biomassa akan menjadi bagian penting dari sistem energi Indonesia untuk mempercepat transisi ke energi bersih dan pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks perdagangan internasional yang mendukung pengembangan energi ini, strategi penetapan harga yang lebih kompetitif diperlukan untuk menarik pembeli global dan memperkuat daya saing produk Indonesia. Strategi ini dapat diwujudkan melalui penerapan harga kompetitif, seperti menggunakan metode CIF (Cost, Insurance, and Freight). Dengan metode CIF, harga yang ditawarkan mencakup biaya pengiriman dan asuransi hingga pelabuhan tujuan, sehingga memberikan nilai tambah bagi pembeli dan meningkatkan daya tarik produk di pasar internasional. Pemasok bertanggung jawab atas biaya pengiriman dan risiko hingga barang tiba di pelabuhan yang disepakati. Beberapa aturan terkait CIF meliputi perhitungan biaya dan asuransi, di mana pemasok harus memastikan barang diasuransikan hingga tiba di pelabuhan tujuan dan jumlah asuransi harus cukup untuk melindungi pembeli dari risiko kerusakan atau kehilangan barang selama pengiriman. Kepemilikan risiko beralih dari penjual ke pembeli saat barang dimuat ke kapal di pelabuhan asal, namun penjual tetap bertanggung jawab atas biaya hingga pelabuhan tujuan. Selain itu, penjual harus menyediakan dokumen-dokumen yang diperlukan seperti surat muatan, polis asuransi, dan faktur agar pembeli dapat mengurus pelepasan barang di pelabuhan tujuan. Dengan menerapkan harga yang lebih kompetitif menggunakan CIF, pemasok dapat memberikan nilai tambah bagi pembeli karena biaya dan risiko utama sudah termasuk, sehingga transaksi menjadi lebih transparan dan sederhana bagi kedua belah pihak.
Ā
Studi Kasus

Gambar di atas menunjukkan data mengenai volume penggunaan biomassa sebagai sumber energi terbarukan dalam tiga tahun terakhir (2021-2023) dalam satuan ton. Pada tahun 2021, penggunaan biomassa tercatat sebesar 282.628 ton, yang menunjukkan tahap awal pemanfaatan biomassa dengan volume yang relatif kecil dibandingkan dengan tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 2022, penggunaan biomassa hampir dua kali lipat menjadi 585.663 ton, yang mungkin disebabkan oleh meningkatnya kesadaran akan pentingnya energi terbarukan atau peningkatan kapasitas produksi biomassa. Peningkatan besar lainnya terjadi pada tahun 2023, di mana penggunaan biomassa mencapai 990.777 ton, meningkat sekitar 69% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa biomassa kini menjadi bagian penting dari strategi energi terbarukan. Tren kenaikan ini dapat didorong oleh berbagai faktor, seperti kemajuan teknologi, kebijakan yang mendukung energi terbarukan, serta peningkatan pasokan biomassa dari limbah pertanian, kehutanan, atau industri lainnya. Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa biomassa memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pilar dalam mengurangi emisi karbon dan meningkatkan keberlanjutan energi di masa depan.

Gambar di atas menunjukkan data tentang Nilai Energi yang Digunakan dari Penggunaan Sumber Energi untuk Produksi Listrik dari berbagai jenis energi, baik Sumber Energi Tak Terbarukan (seperti batu bara, gas alam, dan bahan bakar) maupun Sumber Energi Terbarukan (biomassa), untuk tiga tahun terakhir (2021-2023) dalam gigajoule (GJ). Penggunaan biomassa untuk produksi listrik telah meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2021, penggunaan biomassa tercatat sebesar 4.719.881 GJ, kemudian lebih dari dua kali lipat menjadi 9.780.572 GJ pada tahun 2022. Pada tahun 2023, penggunaan biomassa melonjak lagi, mencapai 16.545.976 GJ, meningkat sekitar 69% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan penggunaan biomassa ini mencerminkan tren positif dalam pemanfaatan energi terbarukan, dengan biomassa sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dalam produksi listrik.
Dibandingkan dengan sumber energi non-terbarukan, penggunaan biomassa untuk listrik masih relatif kecil. Pada tahun 2023, batu bara tetap menjadi kontributor energi terbesar dengan 1.156.023.031 GJ, jauh lebih tinggi daripada biomassa, meskipun penggunaannya sedikit menurun dari 1.176.417.505 GJ pada tahun 2022. Batu bara tetap menjadi sumber utama untuk produksi listrik. Penggunaan gas alam pada tahun 2023 tercatat sebesar 429.550.170 GJ, juga jauh lebih tinggi daripada biomassa, dengan peningkatan dari 393.068.600 GJ pada tahun 2022. Bahan bakar tercatat digunakan sebesar 91.495.327 GJ pada tahun 2023, meskipun lebih rendah daripada batu bara dan gas alam, namun masih lebih tinggi daripada biomassa. Meskipun biomassa mengalami pertumbuhan pesat dalam tiga tahun terakhir, penggunaannya untuk produksi listrik masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan sumber energi tak terbarukan seperti batu bara dan gas alam. Peningkatan yang stabil ini menunjukkan potensi biomassa sebagai sumber energi terbarukan yang semakin penting, namun kontribusinya terhadap produksi listrik total masih perlu ditingkatkan jika ingin mencapai campuran energi yang lebih berkelanjutan. Perpindahan yang lebih kuat ke biomassa dan sumber energi terbarukan lainnya memerlukan dukungan kebijakan, investasi dalam teknologi konversi energi, dan infrastruktur untuk meningkatkan penggunaan biomassa agar dapat bersaing dengan sumber energi fosil yang lebih dominan.




Komentar